Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Jumat, 06 Mei 2011

Katakan Atau Menyesal!!!

Pagi itu cerah sekali seindah suasana malam itu bersama teman bergadang sampai larut malam ngobrolin masalah ini dan itu. Seperti hari biasanya aku menyelesaikan tugas sebelum berangkat kekantor, maklum masih muda semua pekerjaan selalu ditunda-tunda karena menganggap masih ada hari esok dan tugas itu akan cepat aku selesaikan dalam waktu yang singkat. Hari ini agak telat datang kekantor dan itu adalah kesalahan terbesar dari kesalahan yang pernah aku lakukan. Pekerjaanku adalah seorang opperator di sebuah station radio, dan pagi itu aku harus menemani seorang penyiar. Tepat pukul enam lebih setengah jam aku masuk keruangan studio, nampak di sana sudah ada perempuan yang sedang berbicara didepan microphone namanya Devi dia penyiar baru di sini. Walaupun aku terlambat tetapi di wajahnya tidak nampak kekesalan atau jengkel terhadap ketelatanku itu. Dia menyapaku dengan manis, aku anggap itu adalah sebuah senyum junior kepada senior maklum aku sudah lama bekerja disini. Perkenalanku denganya sudah lama dan baik-baik saja tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Devi adalah gadis cantik dan energic dia suka belajar apa pun tanpa harus malu-malu untuk bertanya kepada siapa pun tentang sesuatu yang tidak ia ketahui. Hari itu siaran berjalan seperrti biasanya tapi waktu itu Devi meminta sesuatu padaku “mas, boleh ngak saya minta sesuatu?” tanya Devi dengan senyum manisnya. “minta apa sih?” aku sedikit penasaran. “boleh ngak aku cubit hidungnya?” dengan wajah yang memohon ia pinta. “oh, kamu ini ada-ada saja. Boleh lah” jawabku. Lalu dengan senang ia mencubit hidungku dengan lebut dan diiringi tawa kecil kegirangan. “mimpi apa aku semalam pagi-pagi sudah dicubit hidung sama gadis cantik?” tapi perasaan itu seakan sirna ketika aku ingat tentang cerita teman-temanku kalau Devi adalah kecengan temanku, namanya adalah Roni. Menurutku kejadian ini mungkin hanyalah untaian kenangan manis saja saat aku kerja di radio dan dengan cepat aku tepis semua imaginasiku itu. Sejujurnya semenjak pertama aku melihatnya ketika ia melamar untuk menjadi penyiar di radio itu aku sudah menaruh rasa tertarik sama dia dan teman-temanku mengatakan kalu aku itu cepet tertarik sama semua perempuan yang montok lalu dengan cepat aku sangkal semua itu dan aku bilang kepada mereka pantang bagiku untuk ngedeketin Devi. Lalu Roni sahabatku itu melancarkan serangan PDKT-nya sama Devi dan itu menurutku biasa saja walau dalam hati ada rasa cemburu. Cemburu? Adalah kata-kata yang aneh buatku karena aku anggap tidak mungkin aku menjadi pacarnya atau siapalah! Prinsipku adalah pantang untuk menjilat ludah sendiri. Aku berbohong pada teman-temanku tengtang perasaanku padanya dengan mengarang cerita kalau aku sudah punya pacar padahal sebenarnya aku jomblo. Sebuah predikat yang sangat memalukan bagi insan intertainment ngak punya pacar alias ngak laku. Hari berlalu dan waktupun berputar seiring dengan perjalanan karirku di radio hingga suatu saat aku temukan seorang perempuan yang berhasil memikatku dan membuatku tidak bisa berpaling pada perempuan lain. Namanya Diana gadis belia usia belasan dan masih duduk dibangku SMU kelas dua. Memang bikin bangga punya pacar sama berondong begitulah sapaan untuk remaja anak baru gede, sedangkan usiaku danganya beda jauh, sekitar enam tahun lebih tua darinya. Diana adalah gadis baik dan sedikit lebih Posesiv dan agresif. Tak terasa waktu itu hubungan kami sudah berjalan sekitar tiga bulan, dan aku dengan Roni sahabatku itu gagal menjadikan Devi pacarnya dengan bermacam-macam alasan yang ngak pasti karena aku ngak dengar langsung cerita dari mereka, kabar itu hanya aku dengar dari gosip teman-teman aja. Pikirku ya sudahlah mungkin dia sudah punya pacar, sehingga si Roni ditolak sama Devi. Kaririku di radio dari bulan kebualan mengalami kemajuan hingga suatu saat aku dipercayai untuk menjalankan sebuah kegiatan konser dan waktu itu aku menjabar sebagai ketua pelaksana dengan sekertaris dan bendaharanya adalah Devi dari sanalah aku sering berkomunikasi dengan Devi main kerumahnya untuk menanyakan keuangan dan lain sebagainya. Di dalam perjalanan itu aku sering menemukan Devi sedang bersama seorang lelaki, mungkin pacarnya atau teman yang pasti aku tidak tahu. Karena aku tidak berani menyakan tentang laki-laki yang sering jalan bersamanya. Angapanku kenapa aku harus menyakan itu, siapakah aku? Konser pun telah usai dan komuniksiku dengan Devi menjadi biasa saja intensitas untuk bertemu pun menjadi kurang. Itu aku anggap wajar saja lagian kenapa aku harus pusing mikirin dia mungkin hari ini dia lagi jalan sama pacarnya dan aku pun saat ini sudah punya pacar walau jujur Devi adalah gadis impian yang tenggelam bersma mimpi dan angan semu. Setelah lamanya aku bekerja di radio semakin tinggi pula karirku disana begitupun dengan kisah asmaraku semakin lama semakin kaya akan drama romantis dan pertengkaran. Satu hal yang aku sukai dari sosok Diana adalah kesabarannya mencitaiku dan aku sangat menghargainya, aku tak pernah selingkuh darinya hingga saat ini dia sudah duduk dibangku kuliah semester dua. Dari lamanya kami berpacaran di sanalah aku mengetahui banyak hal tentang apa yang dinginkan perempuan setidaknya perempuan tipe model kayak Diana. Diana adalah seorang yang pencemburu, jika nada bicaraku kurang enak didengar dengan cepat ia bertanya “knapa kok beda? Mas, selingkuh ya?” itulah kata-kata yang sering ia lancarkan ketika protes padaku. Sejujurnya Dian bukanlah model perempuan yang masuk kedalam kategoriku dari bentuk fisik hingga segalanya buatku tidak ada yang terlalu spesial. Namun keputusanku untuk menjadikan ia sebagai pacarku adalah karena aku tidak mau tinggal diam dari wabah jomblo dan penyakit cowok egois yang ngak tau perasaan perempuan dan virus manfaatisasi kaum hawa. Darinya aku belajar cara menghargai perasaan dan pandangannya terhadap penampilan, karakter, hingga pola fikirku memberikan inspirasi untuk still fight memperjuangkan hidup menuju masa depan yang lebih cerah. Akan tetapi perjalanan hudup itu tidak selamanya datar pasti ada tanjakan dan turunan yang curam. Satu bulan lalu kami harus mengakhiri hubungan kami berdua karena orang tua kami masing-masing kedua belah pihak tidak merestui hubungan kami, dan salah satu alasan yang paling konkrit adalah status sosial yang selalu dipertyanyakan oleh orang tuanya. Memang secara finansial aku belum cukup untuk datang kerumahnya untuk melamar atau mengajak tunangan. Menurutku itu berat aku terima karena statusku kini masih Mahasiswa dan sedang sibuk mengurus akhir studi. Dengan penghasilan yang tidak seberapa yang hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja itu tidak cukup untuk meyakinkan Diana dan kedua orang tuanya. Akhirnya kami bersepakat untuk buabaran saja, walau pahit tetapi ini yang harus aku terima sebuah kenyataan yang memaksaku untuk merobohkan bangunan yang telah lama kami bina. Sesal dan tangispun seakan menjadi teman dikeseharianku, hari itu aku masih ingat kira-kira hari selasa jam dua siang Diana datang kerumahku dan menceritakan semua yang telah terjadi padanya. Dia bercerita tentang perjalan cinta kami dan dia sempatmeminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan tanpa sepengetahuanku. Dia sudah lebih dari tiga kali berselikuh dengan lelaki lain dan hingga hari ini dia mengatakan bahwasanya seorang lelaki yang sudah mapan sudah datang kerumahnya untuk melamarnya. Aku terpukul mendengar cerita itu, dengan sabar aku coba bertanya kepadanya “kok kamu gampang banget ya nerima lelaki lain, padahal kita kan baru aja bubaran?” dengan nada kesal. Ia pun menjawab dengan panjang lebar bahwasanya sebelumnya dia telah menjalin hubungan dengan lelaki itu sewaktu kami masih berhubungan. Dan tepat setelah kami putus lelaki itu datang kerumahnya untuk meyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia adalh lelaki yang tepat untuk menjadi pasangan Diana. Lalu aku tanya sama Diana “apa kamu mencintainya?” “ya,…tapi) “stop” dengan cepat aku sela. “ya sudahlah jangan kau teruskan, itu adalah keputusanmu. Aku tidak punya hak apa pun atasmu satu pesan untukmu, jadilah perempuan yang menjadikan kekasihnya menjadi seorang lelaki”. Dalam perjalan cinta ini aku merasa aku bukan seorang lelaki dan mungkin aku pula tidak sanggup menjadikan ia seorang perempuan. Kini hariku-hariku menjadi kosong dan kelabu tapi buakan berarti aku meminta belaskasihan orang lain untuk menghibur kehampaan ini. Nongkrong dikosan sering aku lewatkan bersama teman-teman sambil meratapi kesepian sambil bergai pengalaman dan bertanya tentang type cewe impian masing masing, sambil tersenyum aku selalu ingat dengan mata sipitnya devi. Dengan cepat kutepis lewat kebisuan yang mendalam. Macam kegiatan aku mulai jalani dari kegitan fisik seperti olah raga dan merintis organisasi adalah keseharianku. Aku harap dengan segala aktivitasku ini akan membuang sebuah paradigma negatif tentang wabah jomblo dan dalam fikirku aku harus mampuh hadapi kehidupan ini tanpa harus berpangku tangan dan rewel dengan manja-manja mencurahkan isi hatiku pada seseorang. Berjuang dan singkirkan kata malas dan menyerah itulah moto baru dalam hidupku. Pada suatu malam saat berbaring diatas kasur tiba-tiba terlintas sesosok wajah yang pernah aku kenal dimasa lalu dia adalah teman kerjaku saat di radio “oh ya Devi”, kenapa tiba-tiba aku mengingatnya dan segala kisah bersamanya. Dengan cepat aku buang semua angan-angan itu. Mungkin saat ini dia sedang asyik telponan atau SMS-an sama pacarnya. “peduli apa ia padaku?” ketemu pun jarang dan diantara kita tidak ada komunikasi sama sekali. Tapi, aku masih inggat saat malam itu aku pergi kerumahnya dan berharap dapat melihat senyum dibibirnya serta matanya yang indah yang selalu terbayang. Akan tetapi langkahku terhenti ketika gerbang rumahnya sudah dikunci, ya sudahlah aku pergi ketempat makan dan pulang lagi. Lalu aku masih ingat ketika Devi sedang asik ngoceh di depan microphone dan dia tidak sadar bahwa aku memperhatikan semua ekspresi wajahnya, “manis” itulah kata-kata yang ku bisikan dalam hati saat itu. Lalu tepisan kata “tidak mungkin” selalu merongrong di dalam kegundahan ini. Devi adalah temanku dan hanya akan menjadi temanku saja itu yang selalu aku katakan saat pertama kenal hingga saat ini. Tapi jika aku diijinkan untuk jujur pada dunia bahwa sebenarnya aku suka dan mencintainya dan lebih dari itu aku tidak ingin melihat ia bersedih, inginku ia selalu bahagia adalah cukup bagiku. Tetapi betapa bodohnya aku jika membiarkan perasaan ini mati terkubur bersama jasadku nanti, aku harus bergerak dan mengatakan dengan sejujurnya bahwa aku suka padanya dan cinta padanya. Bicarakan semua isi hatiku atau aku akan menyesal sepanjang hidupku. Setelah hari itu itu aku bertekad untuk mengatakan semuanya, dan SMS pun aku lancarkan hanya sekedar menyakan kabar dan lain sebagainya. Aku minta padanya untuk bisa bertemu dan membicarakan sesuatu. Jawabannya tidak pernah berbeda dari jawaban-jawaban seorang teman “aneh sudah lama ngak ketemu tiba tiba ngomongnya kayak gini?” mungkin itu pertanyaan yang ada dalam benaknya. Serangan selanjutnya aku akan mencuri kesempatan untuk bertemu dengannya dan akan mengatakan semua kerinduan dan kegelisahan yang selam ini bersarang didada. Sore itu aku melihatnya sedang berjalan bersama temanya dan dengan cepat aku sapa dan meminta kepadanya meluangkan waktu untuk nonton, makan malam atau acara jalan-jalan bersamaku. Yang pasti aku pengen membicarakan semuanya dalam kondisi yang tepat dan pas. Dia masih bingung harus menjawab apa, karena ia kira ini awal perjumpaan dari sekian lama tidak bertemu. ==========maaf bila aku telah memaksamu, tapi tolong lanjutkan ceritanya sampai semua pertanyaan tokoh dalam cerita ini menemukan jawaban dari semua pertanyaannya tentang Tokoh Devi=========

0 komentar:

Poskan Komentar

Numari Cigita On facebook